MALAS: RACUN
TUBUH DAN JIWA
Sebuah catatan
kesadaran untuk bangkit dari kuburan kemalasan
Oleh: Adelinda
Jurnalia Mau
Siswa Kelas XII
SMA Negeri Harakakae
![]() |
| SEE THE FUTRE TIME |
Malas adalah suatu perasaan
dimana seseorang merasa enggan untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau
sebaiknya dia lakukan. Siapapun yang dihinggapi rasa malas akan kacau atau
terbelengkai rutinitas hidupnya. Keadaan malas jelas sangat merugikan diri
sendiri. Pada hakekatnya malas juga menggambarkan hilangnya motivasi atau
gairah hidup. Malas merupakan lawan kata dari sikap rajin. Kemalasan yang
melanda diri merupakan suatu sikap yang timbul dari perkembangan emosi
seseorang yang mengarahkan pribadi untuk santai bahkan tidak menghiraukan
dengan keadaan dirinya dan juga orang lain. Maka jelas bahwa malas merupakan
sebuah tindakan yang merugikan dan harus dielakkan bak mendaur badai menepis
resah. Malas merupakan racun tubuh dan jiwa karena dari rahim emosional muncul
tindakan yang tidak produktif. Karakter dasar kemalasan yang membungkus tubuh
seseorang adalah badan terasa lesu, semangat atau gairah hidup menurun dan
lebih sadisnya mengarahkan orang untuk menjadi pribadi kerdil dan teralienasi
dengan diri sendiri.
Pada era globalisasi perilaku
malas sangat merugikan. Globalisasi sebagai wujud perkembangan zaman
mengarahkan setiap pribadi untuk melihat kehidupan di jagat raya ini sebagai
sebuah kempetensi pertandingan atau perlombaan. Zaman ini mengetengahkan kepada
manusia sebagai makhluk individu dan sosial untuk menunjukkan jati dirinya
yakni kemampuan (talenta dan bakat) yang merupakan bagian dari tindakan
produktif. Oleh karena itu merupakan sebuah kewajiban untuk bersikap rajin.
Malas bukan sebuah tindakan kartu mati yang tidak bisa diubah tetapi tindakan
yang ada solusinya. Kesadaran pribadi merupakan point penting yang harus
dirasakan oleh setiap pribadi untuk bangkit dari kemalasan.
Menurut Dollar dan Miller,
Psikolog yang berasal dari Amerika Serikat mengatakan bahwa perilaku manusia
terbentuk karena kebiasaan. Jika seseorang bersikap rajin dan bersemangat maka
ia terbiasa dengan irama keadaan sikap itu. Rasa malas jelas sangat merugikan.
Maka obat yang paling mujarab adalah menumbuhkan kebiasaan disiplin dengan kesadaran
total. Disiplin diri menjadi pola rutin yang menngarahkan orang untuk bisa
bersikap bijak dan kritis untuk melihat ciri khas kemalasan. Di sini dipaparkan
tindakan kemalasan ditandai dengan orang yang suka menunda pekerjaan, pesimis
dengan diri sendiri, mengantuk, lemah, loyo. Semuanya itu terbungkus dalam
bentuk perasaan ‘galau”.
Nah yang menjadi pertanyaan
di sini adalah bagaimana menghilangkan racun kemalasan di dalam diri? Seorang
Imam Alghazali mengatakan bahwa yang terjauh dari kehidupan di dunia ini adalah
waktu. Pahamilah konsep waktu. Jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore
hati. Gunakan waktu sehatmu untuk sakitmu dan kehidupan untuk kematianmu.
Mengapa kita tidak boleh menunda atau malas? Karena waktu tak ada yang bisa
menjamin. Oleh sebab itu setiap pribadi harus memahami konsep waktu dengan baik
dan bijak. Percayalah bahwa orang yang hidupnya terbingkai dalam waktu maka ia
akan bahagia merasa at home dengan kehidupannya. Jangan membuang waktu untuk
kesenangan sesaat. Karena roda waku terus berputar menuju hari esok yang adalah
masa depan maka lawanlah musuh terberat yakni diri sendiri. Buanglah rasa malas
yang melekat dalam diri. Jangan memenjarakan diri dalam jurang kemalasan karena
di sana ada kubangan penderitaan diri sendiri.
Harakakae stay in home
Minggu, 15 Januari 2017
Introspeksi diri dalam sketsa
waktu dan ritme hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar