Rabu, 18 Januari 2017

MENDAUR KEMALASAN



MALAS: RACUN TUBUH DAN JIWA
Sebuah catatan kesadaran untuk bangkit dari kuburan kemalasan
Oleh: Adelinda Jurnalia Mau
Siswa Kelas XII SMA Negeri Harakakae
SEE THE FUTRE TIME

Malas adalah suatu perasaan dimana seseorang merasa enggan untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Siapapun yang dihinggapi rasa malas akan kacau atau terbelengkai rutinitas hidupnya. Keadaan malas jelas sangat merugikan diri sendiri. Pada hakekatnya malas juga menggambarkan hilangnya motivasi atau gairah hidup. Malas merupakan lawan kata dari sikap rajin. Kemalasan yang melanda diri merupakan suatu sikap yang timbul dari perkembangan emosi seseorang yang mengarahkan pribadi untuk santai bahkan tidak menghiraukan dengan keadaan dirinya dan juga orang lain. Maka jelas bahwa malas merupakan sebuah tindakan yang merugikan dan harus dielakkan bak mendaur badai menepis resah. Malas merupakan racun tubuh dan jiwa karena dari rahim emosional muncul tindakan yang tidak produktif. Karakter dasar kemalasan yang membungkus tubuh seseorang adalah badan terasa lesu, semangat atau gairah hidup menurun dan lebih sadisnya mengarahkan orang untuk menjadi pribadi kerdil dan teralienasi dengan diri sendiri.
Pada era globalisasi perilaku malas sangat merugikan. Globalisasi sebagai wujud perkembangan zaman mengarahkan setiap pribadi untuk melihat kehidupan di jagat raya ini sebagai sebuah kempetensi pertandingan atau perlombaan. Zaman ini mengetengahkan kepada manusia sebagai makhluk individu dan sosial untuk menunjukkan jati dirinya yakni kemampuan (talenta dan bakat) yang merupakan bagian dari tindakan produktif. Oleh karena itu merupakan sebuah kewajiban untuk bersikap rajin. Malas bukan sebuah tindakan kartu mati yang tidak bisa diubah tetapi tindakan yang ada solusinya. Kesadaran pribadi merupakan point penting yang harus dirasakan oleh setiap pribadi untuk bangkit dari kemalasan.
Menurut Dollar dan Miller, Psikolog yang berasal dari Amerika Serikat mengatakan bahwa perilaku manusia terbentuk karena kebiasaan. Jika seseorang bersikap rajin dan bersemangat maka ia terbiasa dengan irama keadaan sikap itu. Rasa malas jelas sangat merugikan. Maka obat yang paling mujarab adalah menumbuhkan kebiasaan disiplin dengan kesadaran total. Disiplin diri menjadi pola rutin yang menngarahkan orang untuk bisa bersikap bijak dan kritis untuk melihat ciri khas kemalasan. Di sini dipaparkan tindakan kemalasan ditandai dengan orang yang suka menunda pekerjaan, pesimis dengan diri sendiri, mengantuk, lemah, loyo. Semuanya itu terbungkus dalam bentuk perasaan ‘galau”.
Nah yang menjadi pertanyaan di sini adalah bagaimana menghilangkan racun kemalasan di dalam diri? Seorang Imam Alghazali mengatakan bahwa yang terjauh dari kehidupan di dunia ini adalah waktu. Pahamilah konsep waktu. Jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hati. Gunakan waktu sehatmu untuk sakitmu dan kehidupan untuk kematianmu. Mengapa kita tidak boleh menunda atau malas? Karena waktu tak ada yang bisa menjamin. Oleh sebab itu setiap pribadi harus memahami konsep waktu dengan baik dan bijak. Percayalah bahwa orang yang hidupnya terbingkai dalam waktu maka ia akan bahagia merasa at home dengan kehidupannya. Jangan membuang waktu untuk kesenangan sesaat. Karena roda waku terus berputar menuju hari esok yang adalah masa depan maka lawanlah musuh terberat yakni diri sendiri. Buanglah rasa malas yang melekat dalam diri. Jangan memenjarakan diri dalam jurang kemalasan karena di sana ada kubangan penderitaan diri sendiri.

Harakakae stay in home
Minggu, 15 Januari 2017
Introspeksi diri dalam sketsa waktu dan ritme hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar